Dringo

Acorus calamus L.

Acoraceae

Lokasi di taman kami

Akuatik

Sinonim

Calamus aromaticus Garsault

Habitus

Herba. Herba tahunan, tinggi mencapai 75 cm

Bagian Yang Digunakan

  • Daun
  • Bunga
  • Rimpang

Syarat Tumbuh

  • Matahari Penuh

Habitat

  • Tanaman Air
  • Lahan Basah
  • Pinggiran Sungai

Penyebaran Tanaman

Berasal dari Asia Timur (Mongolia dan Siberia) dan Amerika Utara, kemudian menyebar ke berbagai penjuru dunia melalui perdagangan rempah-rempah. Di Indonesia, dringo digunakan oleh 104 suku untuk mengobati berbagai penyakit (obat tradisional). Rimpangnya digunakan sebagai campuran minuman keras. Dringo juga dimanfaatkan sebagai pemberi aroma pasta gigi dan pestisida alami.

Nama Lokal

Jeurunger (Aceh), Jarango (Batak), Jarianggu (Minangkabau), Jerango (Gayo), Daringo (Sunda), Dlingo (Jawa Tengah), Ai wahu (Ambon).

Agroekologi

Dringo tumbuh baik mulai dari dataran rendah sampai pegunungan dengan ketinggian antara 275-2.050 m dpl, suhu 18-26 °C, pH 5,5-6,5, curah hujan 700-2.000 mm/th. Umumnya cocok ditanam di tanah lempung atau di tanah aluvial ringan dan mudah ditemukan tumbuh melimpah di sawah dan rawa.

Morfologi

 

  • Akar rimpang, berwarna cokelat muda, bentuk agak petak bulat keras dengan panjang ruas 1-3 cm, rimpang bercabang banyak. Bagian dalamnya putih tetapi saat kering berwarna merah muda.
  • Batang pendek berbentuk rimpang.
  • Daun tunggal, berbunga majemuk.
  • Buah berbentuk gasing yang berlendir dan jatuh bila telah masak.

Budidaya

  • Perbanyakan menggunakan pecahan rumpun atau potongan rimpangnya.
  • Perbanyakan juga dapat dilakukan menggunakan bijinya namun tanaman ini jarang membentuk biji.

Kandungan Bahan Kimia

  • Rimpang: minyak atsiri, glikosida, aserone, isocalamendiol, flavonoid, alkaloid, polifenol, akoretina, kholina, kalameona, epi-isokalamendiol, siobunona, trimetil amina, saponin, aneurin.
  • Daun: minyak atsiri, β-asarone, saponin, flavonoid.

Khasiat

Meredakan demam nifas dan peradangan, mengatasi gangguan saraf (epilepsi, autis), rematik, empedu berbatu, dan malaria.

Simplisia

  • Potong ujung rimpang kemudian cuci dengan air bersih hingga tidak ada lumpur yang melekat. Hilangkan akar serabut. Selanjutnya tiriskan dan timbang.
  • Keringkan di bawah sinar matahari langsung dengan alas tikar atau alas lain yang berlubang hingga kering. Rimpang yang telah kering disimpan di wadah tertutup dan kedap udara.

Bagian Tanaman Yang Dimanfaatkan

Ramuan Tradisional

1. Ayan/kejang

  • Parut 1 ruas jari rimpang dringo tambahkan 2 sdm air matang. Peras dan saring. Tambahkan 1 sdt madu, aduk hingga rata.
  • Minum 2 kali sehari dengan takaran sama.

2. Demam nifas

  • Siapkan ½ ruas jari rimpang dringo, 4 kuntum bunga kembang sepatu, ¼ genggam daun serut, 1 gelas air, garam.
  • Cuci semua bahan kemudian haluskan. Tambahkan air matang dan garam sebesar biji asam. Peras dan saring.
  • Minum 2 kali sehari setengah cangkir.

Sumber Referensi

  1. Destryana A, Ismawati I. 2019. Etnobotani dan penggunaan tumbuhan liar sebagai obat tradisional oleh masyarakat suku Madura – J. Food Technol. and Agroindustry 1(2): 1-8.
  2. Gaw LJ, Jäger AK, Staden JV. 2001. Isolation of β-asarone, an antibacterial and anthelmintic compound, from Acorus calamus in South Africa. South Afric. J. Bot. 68: 31-35
  3. Phongpaichit S, Pujenjob N, Rukachaisirikul V, Ongsakul M. 2005. Antimicrobial activities of the crude methanol extractof Acorus calamus Linn. Songklanakarin J. Sci. Technol. 27(2): 518-523
  4. Kim H, Han TH, Lee SG. 2009. Anti-inflammatory activity of a water extract of Acorus calamus L. leaves on keratinocyte HaCaT cells. Journal of Ethnopharmacology 122: 149–156.