Situndal Gara
Aeschynanthus albidus (Blume) Steud.
Gesneriaceae
Lokasi di kebun kami



Ringkasan
Situndal gara memiliki persebaran mulai dari Semenanjung Malaysia, Singapura, Indonesia (Sumatra, Jawa, dan Kalimantan). Tanaman ini seringkali dipanen dari alam untuk dimanfaatkan sebagai tanaman obat. Di Indonesia, khususnya masyarakat Karo memanfaatkan daun situndal gara untuk mengobati kanker dan sebagai bahan untuk membuat racikan minak. Keunikan bunganya, seringkali menjadikan tanaman ini banyak ditanam sebagai tanaman hias di pekarangan.
Nama Lokal
Kapal-kapal sigara tundal, Daun inggap.
Agroekologi
Situndal gara dapat ditemukan tumbuh di tempat pada ketinggian mulai dari dataran rendah hingga 1.440 m dpl dan terkadang hingga 1.520 m dpl. Tipe habitat yang tercatat meliputi hutan dipterokarpa campuran, dekat sungai, serta hutan rawa air tawar dataran rendah. Pertumbuhannya menyukai kondisi teduh dengan naungan parsial.
Morfologi
- Akar tunggang.
- Batang biasanya menjuntai, berwarna hijau dan keunguan, tidak getah, bentuk bulat, permukaan kasar, gundul.
- Daun tunggal dengan susunan berhadapan, helaian berbentuk bulat telur sungsang, jorong atau bulat telur, berukuran 2.3−13.7 × 1.1−5.5 cm, bertekstur sedikit tebal mendaging, pangkal membulat hingga membaji, tepi rata, ujung meruncing, permukaan licin, berwarna hijau kusam di bagian atas dan berwarna merah gelap-ungu di bagian bawah. Bertangkai pendek.
- Bunga terangkai dalam perbungaan dengan jumlah bunga 1 hingga 5, muncul dari ujung atau ketiak daun, bersimetri tunggal. Bunga memiliki kelopak dengan tabung pendek di dasar, yang bertoreh dalam, bervariasi dari hijau hingga keseluruhan warna merah kehitaman, mahkota membentuk tabung yang sedikit melengkung, panjang total berkisar 1.6−2.9 cm, sisi luar berwarna hijau atau kuning kehijauan, cuping mahkota berwarna hijau atau hijau dengan garis tengah warna ungu-cokelat yang agak kabur, di sisi dalam dengan aneka pola, ujung cuping membulat, berbulu jarang. Benang sari sebanyak empat dan lebih panjang dari tabung mahkota, dengan satu tambahan benang sari steril, putik dengan bakal buah menumpang, tangkai berwarna krem atau hijau, kepala berwarna merah pucat. Bertangkai pendek.
- Buah berupa kapsul silinder sepanjang 11.5−40 cm dengan lebar 2.5−4 mm, berwarna cokelat ketika tua.
- Biji memiliki rambut panjang seperti benang di satu ujung, dan di ujung hilar.
Budidaya
Perbanyakan secara generatif (biji) dan vegetatif (stek batang)
Kandungan Kimia
Informasi tidak ditemukan. Butuh penelusuran lebih lanjut.
Khasiat
Mengobati kanker usus dan kanker mulut, luka atau cedera.
Simplisia
Belum didokumentasikan.
Bagian Tanaman Yang Dimanfaatkan


Ramuan Tradisional

1. 1. Luka
- Siapkan daun segar situndal gara cuci hingga bersih.
- Haluskan hingga menjadi pasta.
- Oles pasta daun pada luka.
Sumber Referensi
- Royal Botanic Gardens. 2021. Plants of the World Online: Aeschynanthus albidus (Blume) Steud. http://powo.science.kew.org/taxon/urn:lsid:ipni.org:names:377663-1. 07-10-2021.
- FUJI WULANDARI. 2020. STUDI ETNOBOTANI RAMUAN PENGOBATAN PENYAKIT SISTEM PENCERNAAN DAN PEREDARAN DARAH PADA MASYARAKAT KARO GUGUNG, KABUPATEN KARO, SUMATERA UTARA. Skripsi. UNIVERSITAS SUMATERA UTARA. MEDAN.
- Silalahi M., Purba E.C., Mustaqim W.A. 2019. Tumbuhan Obat Sumatera Utara. Jilid II: Dikotiledon. UKI PRESS:Jakarta.
- Flora Fauna Web. 2019. Aeschynanthus albidus Steud. https://www.nparks.gov.sg/florafaunaweb/flora/5/0/5019. 07-10-2021.
- Middleton D.J. 2016. A revision of Aeschynanthus (Gesneriaceae) in Singapore and Peninsular Malaysia. Gardens’ Bulletin Singapore 68(1): 1–63. doi: 10.3850/S2382581216000016.